Detail Cantuman
Advanced SearchArtikel Jurnal
KEBEBASAN KEHENDAK MANUSIA : Studi Kasus Penafsiran Bintu Shāṭī
Sejarah Islam mencatat bahwa perdebatan mengenai kebebasan kehendak manusia menyebabkan konflik berkepanjangan antara para teolog Islam. Tidak jarang di antara mereka bahkan saling mengafirkan.
Bintu Shāṭī, mufasir perempuan dari Mesir, berargumen bahwa konflik yang pelik ini disebabkan karena para Teolog (Ahli Kalam), mufasir, dan ahli fiqih memahami ayat Alquran sesuai kepentingan kelompok mereka. Selain itu, mereka juga memahami Alquran secara parsial.
Tulisan ini mendiskusikan penafsiran Bintu Shāṭī tentang kebebasan kehendak manusia, khususnya melalui bukunya Maqāl fī al-Insān. Untuk menjawab persoalan yang diangkat, penulis menggunakan metode konten analisis dan komparasi. Penulis menemukan bahwa kebebasan kehendak manusia itu berbeda dengan kebebasan kehendak Allah. Kebebasan kehendak beroperasai dan berbatas dalam sirkulasi antara niat, hasrat dan tindakan. Sementara kebebasan kehendak Allah tidak beroperasi dan berbatas seperti manusia, dia memiliki kebebasan kehendak yang mutlak dan pasti.
Di sisi lain, penulis menemukan bahwa pemikiran Bintu Shāṭī tentang kebebasan kehendak manusia dipengaruhi oleh pemikiran Rashīd Riḍā , khusunya konsep tentang sunnatullah.
Kata Kunci: Irādah, Kehendak Manusia, Tafsīr, Sunnatullāh, Bintu Shāṭī.
Ketersediaan
Tidak ada salinan data
Informasi Detil
| Judul Seri |
QUHAS “Journal of Quran and Hadith Studies || Zaimul Asroor
|
|---|---|
| No. Panggil |
-
|
| Penerbit | Graduate School and Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta : CIPUTAT TANGERANG., 2012 |
| Deskripsi Fisik |
-
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
2252-7060
|
| Klasifikasi |
2x16.2.1M
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
Vol 8, No 2 (2019)
|
| Subyek | |
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






